Sabtu, 06 Februari 2021

Resume 6 - Ide Dalam Menulis

 Disampaikan oleh Bapak Agus Sampurno, seorang Education Specialist sekaligus sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Sorowako Sulawesi Selatan.

Beberapa prinsip dalam menulis yang perlu kita ketahuiuntuk memudahkan kita dalam menulis adalah:

1.      90% ide tulisan muncul ketika kita tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan mengenai tulisan kita. 10% keberhasilan menulis baru mengenai seberapa kita konsisten dalam menulis.

2.      Menulislah dengan hati, mengeditlah dengan pikiran.

3.      Hambatan penulis terjadi ketika ia terlalu menghakimi diri sendiri saat mulai menulis.

4.      Mengedit sebuah tulisan adalah sebuah upaya pembersihan dan akan terasa membosankan serta bisa juga membuat frustasi, tetapi juga bersifat terapeutik atau hal yang baik bagi kegiatan menulis kita. Mengeditlah seperti yang sering kita lakukan dalam kehidupan kita. Buang jauh yang tak perlu. Utamakan yang inti.

5.      Tiga prinsip dalam menulis yaitu: 1). Sederhanakan pesan kita; 2). Buatlah tulisan kita menyenangkan, menakutkan, menegangkan atau mendidik; 3). Buatlah tulisan kita begitu menarik sehingga seseorang pasti sudah gila untuk tidak membacanya.

6.      “Menulis dengan baik berarti berpikir dengan baik. Jika kita tidak dapat menulis dengan baik, itu berarti kita tidak dapat berpikir dengan baik. Tetapi menulis hanyalah langkah pertama. Menulis ulang juga penting. Dan ... apa itu menulis ulang? Menulis ulang adalah memikirkan ulang ide tulisan kita” (David Perel)

7.      Tulisan awal kita akan seperti air kotor, tetapi semakin banyak kita menulis, semakin bersih “air kreatif” kita.

8.      Pisahkan kegiatan antara mencari ide dan menulis. Carilah ide dan buatlah daftar. Baru kemudian ambil satu persatu untuk kita tuliskan.

9.      Kegiatan mengedit tulisan sama pentingnya dengan menulis itu sendiri. Jika kita membaca tulisan di blog yang ‘mentah’ itu berarti nafsu si penulis hanya menerbitkan (posting) dan bukan mempersembahkan buah pikirannya yang terbaik.

10.  Membuat sebuah judul tulisan adalah sebuah seni tersendiri. Teruslah berlatih.

11.  Konsistenlah dalam menulis, kita akan menemukan diri kita sebagai penulis saat kita konsisten.

12.  Jangan pernah berfikir untuk punya ide kita sendiri.

Lakukan ATM terus menerus amati, tiru dan modifikasi. Penyakit seorang penulis adalah memaksa dirinya untuk  mengeluarkan hal yang asli produk dari dirinya. Akibatnya malah ia tidak pernah menulis.

13.  Bagaimana menjadi sosok yang berbeda di internet? Cari keunikan kita, pelajari sebuah hal yang akan jadi brand kita. Jika sudah punya brand lanjutkan dengan mengajarkan orang lain.

Bagaimana memanage hati supaya tidak merasa kecewa berkepanjangan ketika tulisan kita tak dihiraukan oleh orang lain? Teruslah menulis. Ada dua perspektif/pandangan dalam hal berkarya. Pertama, perspektif dari sisi pencipta yang diingat adalah hal yang jelek dan membuat ia kecewa. Seperti kegagalan yang kita alami. Kedua, perspektif dari sisi penikmat atau pembaca yang akan mereka ingat adalah hasil karya kita yang bagus. Jadi sebagai pencipta atau pembuat tulisan, bersikaplah seperti seorang penikmat alias bersikap masa bodoh pada karya yang tidak dilirik orang. Dengan cara coba lagi dan coba lagi.

Banyak narasumber selalu berpesan ‘tulislah yang memberi manfaat bagi orang lain’, namun sebagai pemula apakah salah jika menulis hanya merupakan ungkapan jiwa? Tidak ada yang salah, namun hal mesti dihindari adalah ketika kita menulis sesuatu yang merupakan ungkapan jiwa sendiri namun meminta orang untuk memperhatikan dan menghargai tulisan kita.  Dikarenakan secara manusiawi orang hanya akan memperhatikan sesuatu yang menguntungkan atau berguna bagi dirinya sendiri. Bukan berarti sebuah ungkapan jiwa tidak akan bisa dihargai, namun karya kita meski bersaing dengan maestro, misalnya untuk puisi ada WS Rendra dengan sajak-sajaknya.

Bagaimana kriteria tulisan dikatakan ‘mentah’ atau sudah dari hati? Tulisan yang masih mentah berarti si penulis langsung menekan tanda ‘terbitkan’ saat menulis di blog internet tanpa membaca kembali. Tulisan banyak typo, kalimat berputar-putar. Baca yang keras tulisan yang kita hasilkan. Sensitifkah telinga kita? Tempatkan diri kita sebagai orang yang akan membaca. Jika semua sudah kita lakukan maka apapun ide dan gaya bahasa yang kita tulis akan berasa matang.

Apakah dengan ATM bisa membangun ciri khas seorang penulis?  Ada istilah ‘nothing new under the sun’ artinya di dunia ini sebenarnya tidak ada yang sama sekali baru. Artinya kita harus menemukan siapa penulis yang kita sukai. Pelajari dan lakukan modifikasi. Semakin sering kita lakukan riset dan melihat keunikannya maka kita akan melahirkan keunikan kita sendiri. ATM adalah cara untuk seorang penulis menyusun tenaga agar bisa konsisten menulis kemudian mempunyai gaya menulis sendiri.

Bagaimana tips membuat judul yang menarik agar tulisan kita dapat dengan mudah diingat oleh pembaca? Membuat judul berarti membuat pernyataan yang membuat orang tertarik. Bagaimana tekniknya? Gunakan kata-kata berikut dalam elemen judul yang akan kita buat untuk tulisan kita, yaitu: You, Free, New, Now, Secret (Anda, Bebas atau Gratis, Baru atau Terkini, Sekarang, Rahasia). Beberapa contoh judul, misalnya: 1). Tips bagi anda, guru kreatif dalam menaklukkan kelas yang pasif selama PJJ; 2). Gratis untuk anda, resep membuat video pembelajaran yang memukau siswa; 3). Aplikasi terkini pembelajaran jarak jauh; 4). Temukan sekarang, 10 penyebab murid malas saat pembelajaran jarak jauh; 5). Tujuh rahasia guru yang dirindukan siswanya saat PJJ.

Bagaimana cara merangkai kalimat agar renyah dibaca dan fokus dalam satu alur cerita? Lebih seringlah mengedit. Semakin sering kita mengedit tulisan diri sendiri mungkin kita akan sedih betapa banyak kata dan kalimat yang dipotong. Perbaiki maindset tanamkan bahwa kalimat dan kata-kata yang dibabat dalam proses adalah jalan kita menuju fokus sebuah tulisan.

Menulis berarti mengasah pikiran. Kata mengasah disini berarti kita singkirkan hal-hal yang membuat tulisan kita kurang tajam. Caranya dengan menempatkan proses menulis itu sendiri. Hal lain adalah kegiatan mengedit tulisan berarti kita sedang memastikan bahwa pikiran kita sudah tajam untuk disampaikan kepada pembaca.

Minggu, 31 Januari 2021

Resume 5 - Menulis dan Berbagi


Disampaikan oleh Bapak Yulius Roma Patandean, S.Pd. guru SMAN 5 Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. Beliau adalah alumni Belajar Menulis Bersama Om Jay Gelombang 8. Tema yang diusung merupakan pengalaman beliau dalam menunjang produktifitas menulis.

Buku-buku yang telah berhasil beliau terbitkan adalah buku berjudul “Digital Transformasi” yang telah diterbitkan oleh Penerbit Andi Kemudian meyusul buku berjudul “Filpped Classroom” yang akan diterbitkan juga oleh Penerbit Andi. Kedua uku tersebut adalah hasil kolaborasi dengan Prof. Richardus Eko Indrajit. Selain kedua buku tersebut, buku “Guru Menulis Guru Berkarya” merupakan kumpulan resume Pelatihan Menulis Belajar Menulis Bersama Om Jay gelombang 8 dan buku “Tetesan Di Ujung Pena” merupakan buku kumpulan puisi yang beliau tulis di bulan September – Desember 2020. Kedua buku yang terakhir diterbitkan di penerbit Indie.

Beliau meyakini bahwa kita semua memiliki ide dan pengalaman yang bisa dituliskan. Memiliki karunia untuk menulis. Tinggal bagaimana mengolah kedua hal itu menjadi penopang tulisan yang terstruktur menjadi sebuah buku. Membuat resume materi-materi yang telah disampaikan oleh narasumber adalah salah satu cara melatih keaktifan untuk menulis. Jadikanlah menulis resume sebagai menu wajib sekaligus alarm bagi kita untuk menulis. Mengapa harus resume? Tak lain jawabannya adalah karena resume inilah yang paling mudah kita bahasakan saat kita mulai belajar menulis. Kontennya sudah ada, tinggal diolah dan diberi bumbu kreatifitas mengolah kata-kata sehingga bahasanya renyah untuk dibaca.

Menulislah tanpa beban, seperti air mengalir dari ketinggian, dimana ia akan berhenti di tempat yang datar untuk menjadi satu kumpulan yang besar. Demikian juga kata demi kata yang dituliskan sedikit demi sedikit pada akhirnya akan terkumpul menjadi naskah yang bisa dibukukan. Untuk membuat sebuah buku, menurut format aturan UNESCO minimal isi buku adalah 40 halaman. Nah untuk membuat buku dengan standar ini, menulis minimal 20 resume materi Pelatihan Menulis PGRI ini menjadi kewajiban yang harus dilakukan. Apabila tiap resume menghasilkan masing-masing 5 halaman ukuran kertas A5, maka 20 resume sudah menghasilkan 100 halaman naskah buku. Sehingga seyogyanya kita selesaikan menulis resume dan mendapatkan mahkota menulis, yaitu hasil karya ber-ISBN yang akan diabadikan oleh negara di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Bagaimana dengan penerbitannya? Kita bisa megirimkan naskah ke penerbit Indie. Dimana penerbitan buku di penerbit Indie relatif kebih cepat prosesnya.

Mengapa menulis harus berbagi? Dengan membagikan praktik-praktik baik tentang menulis kepada orang lain akan memberi motivasi pada kita untuk terus menulis. Walaupun harus diakui bahwa motivasi menulis guru-guru tiap daerah berbeda-beda. Kita bisa membagikan tulisan melalui blog di grup WA sekolah ataupun komunitas menulis dan media sosial, juga ikut menuliskan artikel di laman guruberbagi.kemdikbud.go.id.

Selain itu kita juga bisa berbagi dengan teman-teman kerja di sekolah, dan mengajaknya untuk menulis. Supaya mereka termotivasi, kita berikan dulu bukti tulisan kita yang sudah diterbitkan menjadi buku. Kita bisa menjadi pionir untuk mengkampanyekan naik pangkat secara bermartabat melalui karya tulis kita, salah satunya menulis buku ber-ISBN. Buku kumpulan resume yang telah diolah sedemikian rupa termasuk dalam buku tentang pendidikan kemudian diterbitkan menjadi buku ber-ISBN bisa digunakan untuk naik pangkat bagi guru PNS dengan nilai 3 angka kredit. Namun apabila buku dicetak oleh penerbit yang tidak ber-ISBN nilai angka kreditnya 1,5.

Cerpen pun bisa dibukukan menjadi buku kumpulan cerpen. Buku kumpulan cerpen ber-ISBN berisi minimal 10 cerpen termasuk dalam kategori kompleks dengan angka kredit 4. Kita juga bisa menulis buku cerpen ber-ISBN kategori sederhana sebanyak minimal 5 cerpen dengan angka kredit 2.

Bagaimana kiat-kiat agar tulisan kita tidak berhenti ditengah jalan? Salah satu triknya adalah dengan tetap menulis dan membuktikan karya kita. Jika mereka sudah melihat hasil karya kita, sedikit demi sedikit akan tertarik mengikuti. Jadi kita coba tanamkan mencoBa, Lakukan, Budayakan dan Konsisten (CLBK). Pantang mundur sebelum ada karya.

Satu pesan yang dapat kita ambil dari narasumber kali ini adalah menulislah seperti air mengalir, setiap ada kendala selalu ada jalan keluarnya. Seperti air yang senantiasa mencari celah baginya untuk mengalir. Tantangan terbesar menulis adalah diri kita. Jadi, marilah kita kalahkan diri kita agar konsisten menulis di tengah keterbatasan yang melingkupi kita. Menulislah agar hidupmu bermakna, menulislah agar hidupmu berwarna, menulislah agar kau dikenal esok hari. 

Sabtu, 30 Januari 2021

Resume 2 - Pengalaman adalah Inspirasi Menulisku

Materi ini disampaikan oleh Bunda Eva, salah seorang penulis yang berhasil menerbitkan bukunya di penerbit andi di Yogyakarta alumni Menulis Bersama Om Jay Gelombang 7.

Beliau berbagi pengalaman dalam menulis dan menerbitkan buku. Belajar tahap demi tahap, mengeksplorasi dan elaborasi konsep dari setiap narasumber yang dihadirkan hingga akhirnya beliau bisa mewujudkannya menjadi aksi nyata menulis dan melahirkan buku yang berjudul “Kelas Maya - Membangun Ekosistem E-Learning di Rumah Belajar” yang seizin Allah berhasil lolos evaluasi dan diterbitkan oleh penerbit Andi.

Berselang tujuh bulan sejak bergabung dengan kelas menulis di grup WA, beliau berhasil merampungkan menulis dua buku, 1 buku sudah diterbitkan penerbit mayor (penerbit Andi), 1 buku dalam tahap editing berjudul “Optimalisasi Model-Model Pembelajaran Inovatif”. Saat kegiatan kelas online ini berlangsung, beliau sedang menulis buku dengan judul “Belajar Merdeka, Merdeka Belajar”.

Kegiatan menulis beliau awali ketika ikut bergabung dan menimba ilmu mengikuti setiap rangkaian materi yang disajikan dalam forum belajar menulis gelombang 7 di bulan Maret 2020 bertepatan dengan pandemi Covid-19, dimana rasanya seperti membuang-buang waktu dan bingung harus berbuat apa karena mendadak penerapan PJJ. Ternyata pandemi membawa berkah bagi beliau dalam meningkatkan kompetensi menulis dengan bergabung di grup menulis Om Jay. Setiap hari dituntut menulis tiga paragraf, dimulai dari ide-ide yang dilemparkan Om Jay ke peserta. Tema yang diberikan misalnya kucing, siomay, anak bayi, dan lain-lain. Dari tema yang dilemparkan tadi, diharapkan peserta bisa merangkai kata hingga minimal 3 paragraf.

Dari hari ke hari, semakin bertambah pengalaman. Hadirnya narasumber-narasumber yang luar biasa menginspirasi, membuat semangat menulis beliau semakin besar. Dari hanya menulis pentigraf, minimal 3 paragraf hingga menuangkan resume materi dalam tulisan blog. Setiap peserta wajib membuat resume dan memosting di blog. Itulah pengalaman luar biasa yang bisa menghantarkan beliau melahirkan sebuah buku untuk pertama kali.

Pada satu kesempatan beliau mendapatkan materi dari Prof. Richardus Eko Indrajit, dan mendapatkan tantangan untuk berkolaborasi menulis bersama dalam waktu satu minggu. Pada malam itu belum ada yang mengiyakan. Dalam benak peserta berfikir GILAAA..!! menulis dalam waktu seminggu, bisakah?

Hingga hari berikutnya, Om Jay melemparkan sederet tema yang ditawarkan oleh Prof. Eko dan peserta diminta menjawab siapa yang bersedia untuk menuliskan nama dan nomor HP. Tema yang ditawarkan keren-keren, IT semua. Namun demikian, meski sebagai guru TIK beliau merasa belum memiliki potensi untuk menuliskan konsep-konsep tema yang ditawarkan Prof. Eko saat itu. Untuk menjawab tantangan dan membuktikan kemampuannya menulis buku, beliau menuliskan nama dan nomor HP hingga digabungkan dalam grup menulis bersama Prof. Eko. Tergabunglah sebanyak 21 orang peserta yang bersedia.

Hari pertama, beliau menyodorkan main map tentang buku yang akan ditulis. Main map tersebut beliau dapatkan dari belajar menulis bersama Akbar Zainudin, penulis buku “Man Jadda Wa Jadda”. Main map tersebut beliau tuangkan dalam outline yang hari itu juga disetujui oleh Prof. Eko. Mendapatkan jawaban VERRY GOOD dan beliau diminta membuat daftar isi kemudian dikirim ke Prof. Eko. Semangat menulis mulai bangkit akan tetapi masih bingung sendiri.

Hari kedua, beliau berhasil menyerahkan outline (daftar isi) buku yang akan ditulis. Cover buku yang dibuat Prof. Eko semakin menjadikan penyemangat beliau.

Hari ketiga, keempat, dan kelima dilewati dengan penuh khusu’, fokus, dan tanpa membuang-buang waktu. Benar-benar berada pada kegilaan menulis, sehingga mau tidurpun rasanya otak masih berfokus dan berfikir tulisan dan ide apalagi yang harus ditambahkan. Selama seminggu benar-benar pikiran, hati dan raga menjadi satu seiring sejalan, tak ingat lagi yang lain. Dalam ingatan hanya deadline yang hampir habis dan tulisan harus kelar. Dalam hati beliau selalu berdo’a dan meminta kemudahan dan kesehatan pada yang Maha Kuasa.

Pengalaman mengagumkan yang tidak akan terlupakan. Beliau bisa membuktikan bahwa mampu menulis buku dalam waktu 1 minggu, dengan editing 2 minggu siap disetorkan ke Prof. Eko untuk disempurnakan dan dikirim ke penerbit. Dari 21 peserta hanya 11 orang yang berhasil menjawab tantangan tersebut. Setelah melalui evaluasi terpilihlah 9 orang penulis yang akan berkolaborasi dengan Prof. Eko berhasil diterima tanpa revisi, termasuk beliau salah satunya. Tentu saja satu pengalaman yang luar biasa dan menjadi kepuasan batin yang tak ternilai harganya. Pengalaman luar biasa itulah yang menjadi inspirasi beliau dalam menulis selanjutnya.

Satu pesan sebagai motivasi kepada para penulis pemula dari beliau adalah “ketika kita menulis dengan niat berbagi Allah akan membukakan jalan dan mempertemukan kita dengan orang-orang hebat yang luar biasa mengisnpirasi dan selalu  berbagi”. Satu prinsip yang senantiasa beliau pegang hingga saat ini adalah semakin dibagi semakin tak terbatas. Artinya semakin diniatkan untuk berbagi, ada saja ide-ide yang muncul dalam pikiran dan hati kita. Sebelumnya apa yang beliau lihat dan alami tidak pernah terpikirkan untuk dibagikan apalagi dituangkan dalam bentuk buku. Namun setelah pecah telur, buku pertama terbit semakin memotivasi beliau untuk menghasilkan karya-karya yang lainnya. 

Merpati vs Dara

Pagi ini ketika semua orang tengah disibukkan dengan pekerjaan masing-masing seperti biasanya ada yang masak, menjemur cucian, ngepel lantai, dan saya sendiri sibuk ngasuh kedua buah hati saya plus satu keponakan buah hati adik ipar. Waaaahhh...rame sekali yaaa rumahnya? Iya, karena kami memang lagi berkumpul di tempat mertua, selain sebagai kewajiban seorang anak menjenguk orang tua juga sekalian ada keperluan belanja barang-barang ATK sedikit. 

Disaat kami tengah sibuk masing-masing, tiba-tiba ada seekor burung masuk ke rumah bagian belakang. Kontan Bundanya anak-anak memanggil anak-anak untuk melihatnya. Karena agak jinak, dapat ditangkaplah burung tersebut dan dimasukkan ke dalam keranjang plastik yang biasa dipakai untuk wadah jemuran kering. Melihat burung tersebut anak-anak bertanya kegirangan. "Yah, ini burung apa?" tanya putri sulung saya dengan logat anak-anaknya. "Pakde, ini burung apa?" tak mau ketinggalan pula sang keponakan pun ikut bertanya. "Burung Dara." jawab saya. Tak mau ketinggalan Bundanya anak-anak pun ikut menjawab "burung Merpati." Merasa jawaban kami berbeda saya pun bertanya, "Bukannya burung merpati tu yang berwarna putih agak kecil itu?" Tantenya yang dari tadi juga menyimak obrolan kami menimpali sambil ngepel, "Bukannya burung Dara itu ya burung Merpati? Burung Merpati itu bahasa Indonesia dari burung Dara." katanya.


Merasa tidak puas dan penasaran dengan obrolan kami, saya pun mengambil HP dan googling. Setelah saya ketikkan "Merpati" di kolom pencarian google, keluarlah bermacam devinisi merpati. Disitu terdapat satu uraian yang menjelaskan bahwa burung Merpati itu juga burung Dara. Jadi burung Dara nama lain (sinonim) dari burung Merpati. Oooo ternyata Merpati = Dara. 






Jumat, 29 Januari 2021

#Patidusa - Musiku


Musiku
Oleh: Nasirun


Terhampar
Luas membentang
Sajikan panorama alam 
Indah sejauh mata memandang.

Riak gelombang mengalir tenang
Airmu tak berbilang
Ramai orang
Bergantian.

Mandi
Juga mencuci
Bahkan mencari ikan 
Setiap waktu mereka lakukan.

Kau berikan berjuta manfaat
Tuk menunjang kehidupan
Setiap insan
Musiku.

Menjaga
Juga melestarikan
Kewajiban setiap insan
Demi kelangsungan masa depan.


Sekayu, 30 Januari 2021

Rabu, 27 Januari 2021

Bebas

Assalamualaikum, selamat pagi sobat lage...semoga kita senantiasa dilimpahkan kesehatan dan keselamatan.

Sobat lage, #KamisMenulis edisi tanggal 28 Januari 2021 kali ini mengusung tema bebas. Berhubung tema yang diusung adalah bebas saya mencoba menyajikan sebuah cerita pada pagi hari ini. 

Bothok. 
Adalah sejenis makanan tradisional khas Jawa. Bagi kita yang berasal dari daerah Jawa Tengah khususnya pasti sudah tidak asing lagi dengan bothok. Saya suka sekali dengan makanan tradisional ini. Dimakan ketika masih anget bersama nasi, rasanya sungguh nikmat menambah selera makan kita. Disamping itu, bagi saya yang seorang perantau dengan makan bothok membuat rasa kangen terhadap keluarga dan lingkungan asal saya sedikit terobati.

Bothok sendiri dibuat dari bahan-bahan: parutan kelapa yang masih muda, ikan teri, irisan tempe/tahu putih, daun mlinjo muda/daun so, dan tidak lupa yang menjadi ciri khas bothok ini adalah petai cina. Jika tidak ada petai cina, bagi yang suka pare bisa dijadikan sebagai pengganti.

Adapun bumbu untuk membuat bothok adalah cabe, bawang merah, bawang putih, daun jeruk, dan kencur. Semua bumbu diulek (dihaluskan). Campur jadi satu semua bahan dan bumbu, kemudian bungkus menggunakan daun pisang. Setelah selesai, kukus bungkusan bothok kurang lebih selama 30 menit. Bothok lebih nikmat dimakan hangat-hangat.

Demikian tantangan #KamisMenulis dengan tema bebas. Salam literasi.

Resume 4 - Teknik Membuat Resume Jadi Buku

Disampaikan pada Pelatihan Belajar Menulis edisi Senin, 25 Januari 2021 oleh narasumber seorang guru hebat, Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd dari Lebak Banten. Beliau adalah peserta belajar menulis bersama Om Jay gelombang 8.

Resume adalah sebuah ringaksan atau rangkuman materi. Ketika kita membuat resume, diharapkan jangan mengcopy tulisan narasumber secara utuh tanpa mengedit sedikitpun. Tetapi tentukan poin-poin yang dianggap penting lalu kembangkan dengan bahasa sendiri. Bisa diselingi pengalaman hidup, atau pengalaman menarik lainnya. Hal ini agar resume kta terasa hidup dan tidak monoton hanya sekedar copy paste dari narasumber.

1.      Mengumpulkan resume dalam file word.

Hal ini ditujukan supaya memudahkan kita dalam menyusun buku nanti.

2.      Menentukan tema.

Dilakukan untuk mengelompokkan materi yang temanya sama menjadi satu bab.

3.      Membuat TOC (Table Of Content) atau Daftar Isi.

Daftar isi dibuat berdasarkan kumpulan tema yang kita buat tadi.

4.      Mulai mengembangkan TOC (Table Of Content).

Pada kegiatan ini kita bahas lebih mendalam isi per bab dan selingi dengan pengalaman pribadi supaya buku terasa hidup. Ketika menulis naskah jangan dulu melakukan revisi. Tuangkan dulu ide yang berserak disekitar kita.

5.      Review, revisi dan edit naskah.

Jika naskah sudah selesai diketik, lakukan penyuntingan ejaan berdasarkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia), dengan tujuan untuk meminimalisir typo atau salah ketik.

6.      Lengkapi sinopsis buku.

Sinopsis dibuat untuk menarik perhatian pembaca.

7.      Kirim ke penerbit.

Jika naskah sudah selesai, kirimkan ke penerbit untuk segera diproses.

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membuat resume menjadi buku adalah:

-   Buku kumpulan resume kita persepsikan sebagai true story jadi yang diutamakan adalah cerita pengalaman mengikuti mengikuti setiap pertemuan. Kesan-kesan pribadi terhadap materi narasumber dihubungkan dengan pengalaman kita sendiri.

-       Ada satu bab khusus yang membahas awal suka menulis dan pandangan terhadap menulis. Misalnya sebelumnya mengira jika menulis itu sulit karena mentok tidak ada ide, namun setelah mengikuti pelatihan tercerahkan bahwa menulis jangan menunggu ide tetapi ciptakan ide.

-      Naskah resume buku isinya bukan sekedar copy paste materi dari narasumber, tetapi ambil poin-poin pentingnya saja.

-     Resume di blog boleh panjang, karena dianggap hampir seluruh materi itu penting. Tetapi ketika akan dijadikan naskah buku, harus dibuat lebih ringkas dengan mengambil poin-poin pentingnya saja.

-     Menulis biodata narasumber tidak perlu panjang-panjang, misalnya jika prestasinya banyak cukup diambil salah satu saja yang paling “Wah”.

-        Materi sesi tanya jawab diambil beberapa saja yang sesuai dengan tema yang dibahas.

-    Daftar pustaka dibuat jika mengutip dari buku, tetapi jika isinya paparan materi dari narasumber semua maka daftar pustaka tidak perlu dibuat.

Satu tips yang diberikan narasumber kepada penulis pemula agar bisa konsisten dalam menulis adalah tentukan niat dan tekad yang kuat. Karena menulis butuh keterampilan, harus diasah setiap hari. Layaknya sebuah pisau semakin tajam apabila selalu diasah. Begitupun keterampilan menulis, harus dibiasakan menulis setiap hari. Jika kita sudah terbiasa menulis dan berhasil menaklukkan 20 resume pasti akan bisa menerbitkan buku sendiri.

Kembali ke Rumah Induk Lama

"Rumah" induk yang dimaksud di sini adalah tempat tugas induk Pak Guru sebagai seorang pendidik, yaitu di SD Negeri Anyar kecamata...