Rabu, 03 Maret 2021

Semoga Menjadi Keluarga Samawa

Hari ini Rabu 3 Maret 2021 menjadi sejarah perjalanan hidup keponakan saya, Sidik Widaryanto, S.Pd. karena ia akan melangsungkan akad nikah dengan seorang gadis dari desa Bumi Ayu, kecamatan Getasan, kabupaten Semarang, yang bernama Nurul Hidayah binti Ahmad Yani. Berhubung masih dalam suasana pandemi, acaranya dilaksanakan dengan sangat sederhana dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Undangan yang hadir pun juga dibatasi hanya beberapa orang saja, tidak seramai ketika suasana normal sebelum pandemi. Keluarga yang diajak pun hanya keluarga inti dari pihak ayah dan ibunya saja. Termasuk saya sebagai pamannya, karena ibunya merupakan kakak pertama saya.

Rombongan pengantin berangkat sekitar pukul 08.30. Tidak sampai satu jam kami sampai di tempat tujuan. Sebelum kendaraan diparkir, oleh-oleh bawaan diturunkan dahulu termasuk hantaran untuk sang pengantin wanita. Setelah semua barang diturunkan, dirasa ada yang kurang. Ternyata satu paket hantaran yang berisi kain jarik tertinggal di rumah. Segera kakak saya bergegas kembali lagi untuk mengambilnya dengan mengendarai sepeda motor.

Selanjutnya kami disambut sebagaimana mestinya. Suguhan kue-kue telah tersaji di ruangan yang telah diatur sedemikian rupa untuk menempatkan para tamu. Sembari menunggu acara akad nikah, kami menyantap hidangan yang telah disediakan. Tak berapa lama kami menunggu, akad nikah akan segera dimulai di masjid yang terletak di samping rumah besan. Menjelang akad nikah dimulai, kakak yang mengambil hantaran yang tertinggal tadi tiba. Digabungkanlah jadi satu dengan hantaran yang lainnya. Beruntung kakak tiba tepat pada waktunya, sehingga kelengkapan hantaran tercukupi sebelum akad nikah dimulai.

Petugas KUA memimpin jalannya prosesi akad nikah. Sebagai wali nasab, ayah dari mempelai wanita mewakilkan kepada pimpinan pondok pesantren tempat putrinya menimba ilmu untuk menjadi wali dalam pernikahan putrinya. Menyaksikan prosesi tersebut, saya ikut merasa deg-degan juga. Terbersit kekhawatiran jika akad nikah tidak berjalan lancar. Setelah ikrar ijab dari wali nikah diucapkan, dijawabnya dengan "Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq". "Syaahh", para saksi pun mengesyahkan ikrar kabulnya.

Alhamdulillah, kekhawatiran terbantahkan. Ijab Kabul diucapkan dengan lancar. Kini syahlah sudah kedua mempelai menjadi sepasang suami istri. Semoga bisa membangun mahligai rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah, dan dikaruniai keturunan yang soleh dan soleha. Aamiin.

Senin, 01 Maret 2021

H-1

H-1 menjelang pelaksanaan pernikahan keponakanku Sidik, terlebih dahulu digelar pengajian hafiz Qur'an oleh Sidik, adik-adiknya, serta teman-teman sepondoknya secara estafet. Bakda subuh pengajian diawali oleh Sidik disimak oleh adik-adiknya. Menjelang siang sekira jam 8, teman-temannya dari pondok mulai datang. Selanjutnya hafalan Qur'an dilaksanakan secara bergantian.  

Mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan secara hafalan oleh anak-anak muda, terasa bergetar hati dan perasaan ini. Berkata dalam hati sungguh bahagia orang yang fasih membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an apalagi sampai bisa menghafalkannya. Sungguh anak-anak yang mulia yang siap memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya kelak di surga. Sungguh berbahagia kedua orang tua anak-anak muda ini memiliki putra/putri seorang penghafal Al-Qur'an.

Dari lubuk hati yang paling dalam pun berharap semoga kelak kedua buah hatiku bisa mengikuti jejak kakak-kakaknya, sekolah sekaligus mengaji. Sekolah di sekolah umum sebagai bekal untuk kehidupan dunianya, serta mengaji di pondok pesantren sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat kelak. Terlebih supaya anak-anakku kelak memiliki pegangan hidup untuk menjalani kehidupan sesuai ajaran agama dan tuntunan rosul-Nya.

Menjelang siang selepas sarapan (tradisi tempat kami jika rewang di tempat orang hajatan sarapan sekitar jam sepuluhan), dikarenakan masih ada beberapa perlengkapan yang belum cukup sehingga harus membeli lagi ke sebuah toko busana di kota kabupaten yang memerlukan waktu sekitar setengah jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Segera saja aku mengajak kakak laki-lakiku untuk mengawani belanja. Setelah diberi uang untuk membeli perlengkapan yang masih kurang segera bergegaslah kami menggunakan sepeda motor.

Seperti kata peribahasa, "untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak", baru dapat separuh perjalanan, hujan turun dengan lebatnya bagai air ditumpahkan dari langit. Kami pun menepi, membuka jok motor ternyata hanya ada satu stel jas hujan. Berhubung jas hujannya hanya satu kami pun berteduh dahulu sampai hujan reda. Sampai kurang lebih satu jam hujan baru agak reda. 
Setelah hujan agak reda, kami melanjutkan perjalanan. Pertama sekali menuju toko busana muslim untuk membelikan kain sarung dengan pecinya untuk sang calon pengantin. Setelah pilih memilih mana yang cocok segeralah membayarnya di kasir. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Baru beberapa meter berjalan, hujan kembali deras lagi. Tak urung kami pun berhenti lagi untuk berteduh dahulu.

Setelah hujan reda kami segera bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini tujuannya ke mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk menarik tabungan. Tak perlu menunggu antrian yang lama, segera aku lakukan transaksi. Setelah selesai bertransaksi, segera kami lanjutkan perjalanan. Belum juga sampai tujuan, hujan deras lagi.

Begitu sampai di tempat tujuan, segera kami pesan tiga box ayam kremes yang akan digunakan sebagai pelengkap seperangkat nasi tumpeng untuk khataman bacaan Al-Qur'an tadi. Berhubung hujan masih cukup lama, kami pesan dua porsi ayam kremes untuk menu mengisi perut. Selesai kami makan, hujan belum juga reda sehingga harus menunggu lagi sampai hujan agak reda. 

Begitu hujan agak reda, kami segera melanjutkan perjalanan pulang meskipun masih sedikit rintik. Dikarenakan habis hujan, perjalanan jadi agak lambat. Kondisi jalan agak licin dan banyak yang tergenang oleh air hujan, sehingga harus ekstra hati-hati mengendarai sepeda motor. Sampai di rumah sudah menunjukkan pukul lima belas lewat. Tidak terlambat, karena khataman Qur'an akan dilaksanakan bakda Ashar.

Senang bisa melaksanakan tugas yang diamanahkan dengan baik walaupun baju sedikit kebasahan. Akan tetapi terasa sedih juga karena ketika aku tinggalkan tadi, putri sulungku masih tidur sehingga ketika bangun mencari-cari ayahnya di mana. Bahkan badannya terasa panas, sepertinya demam mau pilek. Sebagai antisipasi, segera kubeli obat penurun panas, batuk, pilek dan larutan penyegar. Karena susah sekali minum obat, disaat yang tepat aku minumkan obat tersebut agar tidak sampai parah sakitnya.

Minggu, 28 Februari 2021

Banteng itu Bernama Kerbau

Meskipun di beberapa kesempatan masih bisa menyempatkan diri untuk menulis di sela-sela waktu beristirahat dalam perjalanan, namun rasa lelah setelah menempuh perjalanan  yang lumayan panjang membuat diri ini merasa mentog ide untuk menulis. Teringat hari ini adalah hari Senin, awal bulan Maret yang begitu cerah. Demikian juga bahwa hari Senin adalah jadwal Senin Blog Walking bagi anggota komunitas Lagerunal, momen yang tidak kalah serunya dengan jadwal Lagerunal yang lain. Oleh karenanya saya sempatkan untuk menulis apapun yang bisa ditulis.

Hari ini keluarga besar mulai ramai melakukan pekerjaan dalam rangka pernikahan keponakan saya yang akan digelar hari Rabu lusa. Acara akad nikah dilaksanakan di kediaman mempelai wanita. Kebetulan keponakan saya adalah mempelai laki-lakinya, sehingga pada hari Kamis keesokan harinya akan menerima pihak besan. Meskipun acaranya dilaksanakan dengan sangat sederhana, namun untuk menempatkan tamu-tamu yang datang khususnya dari pihak besan maka dipasanglah 2 unit tenda di depan rumah. 

Di sebelah lokasi pemasangan tenda tampak beberapa hewan ternak yang sedang diplegung (dijemur) di bawah sinar matahari pagi. Melihat hewan-hewan itu, kedua buah hatiku berteriak histeris (karena memang selama di Sumatera mereka belum pernah melihat hewan-hewan tersebut). Kontan saya ajak melihat hewan ternak itu dari dekat. Si bungsu masih berteriak-teriak histeris dalam gendongan.

"Ayah, lihat ada banteng. Bantengnya banyak. Ada banteng kecik (kecil), ada banteng besak (besar)", kata putri sulungku.

"Bukan banteng itu, Nak. Itu kerbau", kataku menjelaskan pada si sulung.

"Bukan ayah, itu banteng", masih keukeuh putriku jika hewan ternak itu banteng.

Bukan tanpa alasan jika putri sulungku keukeuh, karena bentuk dan warna hewan ternak itu (kerbau) memang menyerupai banteng yang sering dilihatnya dalam video nama-nama hewan. Jadilah banteng itu bernama kerbau versi putriku.
Salam literasi.




Kamis, 25 Februari 2021

Darik Ibu Kota

Kabut pagi masih menggelayut
Menggantung di kaki langit
Sepanjang mata ini memandang
Disuguhkan keindahan panorama
Kilau cahaya lampu kota.

Kembali aku lewati
Jalanan ramai ini
Membawaku kembali 

Kerinduan

Oleh: Pak Iroen

Temaram.

Tanpa gemintang
Temani malam.

Deru suara mesin
Menyatu deburan ombak
Berpadu dalam balutan.

Di bawah rintik hujan
Desir suara angin malam
Menambah dingin suasana alam
Ciptakan simfoni dalam kesunyian.

Perlahan mulai melaju, maju
Menembus gelombang tanpa ragu
Siap mengantar para perindu
Mencapai tujuan harapan syahdu.

Tampak indah kejauhan
Keindahan suasana malam
Berhiaskan cahaya terang.

Selamat datang
Pagi menjelang.

Menyeberang.



Menjelang pagi di atas kapal penyeberangan, 26 Februari 2021



Sayur Asem


#KamisMenulis edisi 25 Februari 2021 menyajikan tantangan menguraikan sebuah gambar foto irisan sayuran: jagung, terong, kacang panjang, dan telur.

Melihat gambar foto tersebut pikiran saya langsung saja melayang pada menu masakan sayur asem. Bahan-bahan tersebut: irisan jagung, terong, dan kacang panjang ditambah dengan daun melinjo muda, bumbu rempah, plus kacang tanah jadilah sayur asem yang sedap dan mantap. Untuk melengkapi kenikmatannya ditambah sambal terasi, lauk tempe goreng atau telur dadar, dimakan bersama nasi hangat-hangat.

Menu ini terasa semakin spesial karena saya tuliskan saat beristirahat di rest area 90 Bandar Lampung dalam perjalanan mudik menuju kampung halaman di Boyolali, Jawa Tengah. 

Salam sehat.
Salam literasi.

Perjalanan

Oleh: Nasirun

Panjang
Separuh perjalanan
Menembus derasnya hujan
Di tengah gelapnya malam.

Kampung halaman nan rupawan
Selalu jadi ingatan
Berjuta kenangan
Menawan.

Riang
Juga senang
Waktu yang dinantikan
Tuk kembali aku pulang.

Lelahnya badan tak kurasakan
Tertutup besarnya harapan
Bertemu kerabat
Mendekat.

Terbanggi Besar, 25 Februari 2021

Kembali ke Rumah Induk Lama

"Rumah" induk yang dimaksud di sini adalah tempat tugas induk Pak Guru sebagai seorang pendidik, yaitu di SD Negeri Anyar kecamata...