Senin, 14 Februari 2022

Berkarya


Seperti biasanya, hari ini adalah hari Kamis maka waktunya untuk mengeskplorasi tulisan di Blog dan dituangkan dalam tantangan #KamisMenulis. Karena berbarengan dengan kegiatan Webinar yang lumayan menuntut untuk fokus pada kegiatan tersebut (kebetulan saya ditunjuk sebagai ketua panitianya), pada #KamisMenulis edisi Minggu kemarin saya absen untuk berpartisipasi. 
#KamisMenulis edisi kali ini mengusung tema yang unik yaitu permainan lima dasar

Selasa, 08 Februari 2022

Buku Antologi Perdana Guru Muraling

Yeeeee.....!!! Akhirnya pecah telur, guru-guru bersama pegiat literasi muda di kabupaten Musi Rawas berhasil menelurkan buku antologi. Mengusung tema "Sepenggal Kisah Pengabdian", buku antologi ini digawangi oleh adek-adek Indonesia Mengajar Musi Rawas angkatan XX.

Senang tentunya bisa ikut berkontribusi dalam penulisan buku antologi ini. Buku ini berisi kumpulan kisah inspiratif dari berbagai elemen baik tenaga pengajar, mahasiswa, dan para penggerak pendidikan.  

Diharapkan, ke depannya akan lahir buku antologi-antologi berikutnya sehingga bisa memantik semangat kawan-kawan guru di kabupaten Musi Rawas untuk bisa melahirkan buku solonya masing-masing.

#salamliterasi 



Kamis, 20 Januari 2022

Reward I #KamisMenulis

Satu hal yang sangat membahagiakan ketika kita mendapatkan reward atas usaha kita dalam hal apapun. Begitu juga dengan diriku ketika menerima reward pada kegiatan #KamisMenulis di WA grup lagerunal pada edisi Kamis, 5 Agustus 2021. Rasa senang dan bahagia menyelimuti perasaanku saat itu. Adapun donatur yang memberikan reward pada saat itu adalah Bunda Rahmawati dari Lombok Barat.

Tak lama setelah keluar namaku sebagai pemenang challenge, Bunda Rahma japri diriku menyampaikan bahwa beliau mempunyai voucher buku di aplikasi belanja online. Aku diminta untuk mencari dan memilih buku yang kuinginkan. Oleh karenanya aku segera membuka aplikasi online untuk mencari-cari buku yang aku inginkan.

Mulanya aku memilih satu buku autobiografi karena aku ingin suatu saat nanti bisa menulis autobigrafi sendiri sehingga buku tersebut bisa aku jadikan sebagai referensi. Setelah aku konfirmasi dengan Bunda Rahma ternyata vouchernya masih sisa sehingga aku diminta memilih buku lagi untuk mencukupinya. Aku pun tertarik pada sebuah paket novel yang berisi dua buah buku. Aku juga mempunyai keinginan untuk bisa menulis cerita fiksi nantinya. 

Senang rasanya dalam satu kesempatan menerima reward mendapat tiga buah buku sekaligus. Tak lupa aku ucapkan beribu terimakasih kepada Bunda Rahmawati sebagai donatur yang telah memberikan reward tersebut. Semoga hal ini bisa melecut semangatku untuk bisa terus berkarya melalui tulisan.



Inovasi Pendidikan


Perkembangan teknologi saat ini menuntut perubahan di segala aspek kehidupan. Dunia seolah tanpa batas lagi. Informasi dari belahan dunia manapun dapat kita terima dengan cepat. Demikian halnya juga dalam bidang pendidikan. Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat ikut mempengaruhi perubahan yang terjadi di dunia pendidikan. Situasi pandemi yang belum berakhir seperti sekarang ini menuntut guru untuk selalu berinovasi dalam memberikan pendidikan kepada siswa-siswinya.

Inovasi dalam pendidikan diperlukan supaya kegiatan belajar mengajar berjalan efektif dan tidak membosankan. Inovasi pendidikan bukan berarti mengganti sistem yang lama dengan sistem yang baru, tetapi bisa mengembangkannya dengan pembaruan-pembaruan yang ada. Sebagai seorang pendidik, kita bisa memulai dari hal-hal kecil dari dalam diri kita sendiri untuk bisa mewujudkan inovasi pendidikan. Kita bisa mengembangkan metode mengajar dengan tetap berpedoman pada peraturan yang ada. 

Dengan adanya inovasi diharapkan dapat mengurangi permasalahan yang ada di kelas. Melibatkan peran teknologi dalam pembelajaran menjadi hal yang sangat penting untuk bisa mewujudkan inovasi pendidikan. Hal itu juga sekaligus mengenalkan perkembangan teknologi kepada anak didik kita supaya mereka tidak gagap dengan perkembangan teknologi. 



Rabu, 12 Januari 2022

Semangat Menjalani Hari

Kesibukan pekerjaan yang menuntut deadline harus segera dituntaskan membuatku vakum beberapa saat dari dunia menukis. Agenda menuntaskan pekerjaan satu demi satu yang sudah kususun sedemikian rupa mendadak buyar.

Tahun 2021 berlalu sudah meninggalkan semua kisah dan kenangan, berganti dengan datangnya tahun 2022. Menapaki awal tahun ini kuberharap bisa selalu melewati hari-hari dengan penuh semangat seperti semangatnya hari yang terus berganti. 

Semua kisah yang tak mengenakkan di tahun kemarin tak perlu dikenang. Kita Songsong tahun ini dengan semangat yang baru. Semoga tulisan ini bisa menjadi pelecut semangat bagi diriku sendiri untuk menjalani aktivitas dan kegiatan sehari-hari serta supaya bisa senantiasa menebar kebaikan kepada sesama.

Masih memiliki mimpi untuk bisa menerbitkan buku lagi. Beberapa agenda menulis yang masih terbengkalai di tahun kemarin, semoga bisa terwujud tahun ini. Semangat menyongsong tahun yang baru. Semangat menjalani hari-hari di tahun ini dengan lebih baik lagi.


#salamliterasi

Minggu, 09 Januari 2022

Kedatangan Ibuku

Bisa selalu berdekatan dengan orang tua merupakan keinginan terbesar bagi setiap anak. Pun juga dengan diriku. Hidup di rantau orang membuat keinginan untuk bisa berdekatan dengan orang tua semakin menggebu. Apalagi orang tuaku tinggal sebelah. Ayahku sudah sekian puluh tahun yang lalu mendahului kami menghadap sang khalik. Hanya tinggal ibuku yang sudah semakin sepuh.

Libur semester ganjil kemarin menjadi momen mudik dadakan bagi kami (aku dan keluarga kakak pertamaku). Karena mendapat kabar bahwa bapak mertua kakakku sakit keras, kakak ipar memutuskan untuk mudik dengan harapan masih bertemu dengan bapaknya. Namun takdir berkata lain. Di tengah perjalanan perjalanan mudik menuju Palembang mendapat kabar lagi bahwa bapak mertua kakakku sudah dipanggil oleh Allah SWT.

Aku yang pada saat itu sudah berada di Palembang ditelfon kakak untuk dimintai tolong menemani di perjalanan. Otomatis liburan kali itu mendadak mudik tanpa ada rencana. Meskipun begitu aku ambil hikmah positifnya, aku bisa menjenguk sekaligus bersilaturahmi dengan ibuku. Aku langsung menyiapkan beberapa pakaianku beserta putriku untuk beberapa hari di tempat embahnya.

Sore harinya, setelah kakak beristirahat sebentar segera kami melanjutkan perjalanan. Kami akan menjemput kakak pertama kakak iparku terlebih dahulu di Belitang. Dalam perjalannya tadi ternyata kakak sudah berkomunikasi dengan kakaknya bahwa ia akan ikut mudik serempak. 

Perjalanan terasa begitu lama. Mungkin hal itu disebabkan karena ingin buru-buru sampai di rumah sehingga waktu terasa sangat panjang. Apalagi perjalanan di bawah guyuran hujan yang lumaya deras, semakin membuat perjalanan terasa sangat lama. Tengah malam kami baru sampai di rumah kakak di Belitang. Kami pun hanya beristirahat sejenak sembari menunggu kakak menyiapkan segala sesuatunya.

Pagi harinya menjelang pukul tujuh kami baru bisa naik kapal penyeberangan di pelabuhan Bakauheni, Lampung. Kakak memilih kapal express. Selain karena fasilitasnya yang lebih bagus juga supaya lebih cepat tiba di pulau seberang. Pukul setengah sepuluh pagi kami sudah turun dari kapal penyeberangan.

Perjalanan dari pelabuhan sampai ke kota kami di Boyolali sekarang sudah semakin enak. Dari pelabuhan Merak, Banten sampai ke kota kami sudah dihubungkan dengan jalan tol sehingga perjalanan bisa ditempuh lebih cepat dan nyaman tanpa takut terkendala kemacetan lalulintas. Kami keluar dari jalan tol melalui pintu keluar tol Salatiga.

Sampai di rumah duka sudah pukul sembilan malam lewat. Suasana duka tampak menyelimuti kedatangan kami. Kakak-kakakku disambut dengan peluk dan tangis oleh adik-adiknya. Di sana masih banyak berkumpul sanak keluarga dan para takziyin yang telah selesai mengadakan acara tahlilan. Di rumah duka pun aku bertemu ibuku yang juga menghadiri acara tersebut. 

Kami hanya beberapa hari di  Jawa. Selain karena waktu hari libur sudah mau berakhir, juga karena kakak iparku tidak bisa izin terlalu lama meninggalkan pekerjaannya. Pada satu kesempatan aku berbincang-bincang dengan ibu dan saudara-saudaraku bagaimana kalau ibu ikut kami ke Sumatera. Sudah sejak sebelum pandemi melanda ibuku ingin menengok keadaan kami, anak-anaknya yang tinggal di Sumatera. Hal itu pas sekali karena kakak yang dari Belitang belum akan pulang sehingga kendaraan kami masih cukup untuk me5mbawa ibu.

Waktu liburan terasa sangat singkat. Terhitung aku berada di rumah selama 5 hari. Waktu yang sangat cepat bagi perantau seperti diriku untuk melepas rasa rindu pada keluarga. Namun, hal itu dapat terobati karena ibuku mau kami ajak ke Sumatera.

Sudah sepuluh hari ibuku tiba di tempat kami. Tentu saja perasan gembira yang ada di dalam hatiku karena bisa mewujudkan keinginan beliau untuk bisa menengok cucunya yang tinggal di rantau. Selain itu juga karena aku ditunggui oleh orang ibuku. Satu harapanku semoga ibuku selalu diberi kesehatan dan merasa betah tinggal bersamaku di sini. 


Marhaban Yaa Ramadhan 1447 H

Marhaban Yaa Ramadhan... Selamat datang bulan pernuh berkah, bulan yang penuh ampunan. Rasa syukur selalu kami ucapkan, atas segala nikmat d...